SAATNYA KONI SULUT

  • Whatsapp
LOGO-KONI-Sulut

(Sebuah Catatan Kerinduan)

kex
Reymoond ‘Kex’ Mudami

Oleh : Emon ‘Kex’ Mudami, pernah aktif di (jurnalis) olahraga

Celoteh singkat ini sebagai bentuk rasa memiliki untuk Olahraga Sulut, jika prestasi olahraga (Sulut)  barometer ukuran adalah peringkat di PON,  maka sudah saatnya KONI Sulut melakukan pemetaan baru lagi ke depan, -lepas dari apapun hasil PON Papua-

Yang saya maksudkan, dan ini belum pernah dilaksanakan secara utuh, adalah dengan memberi porsi penanganan/pemberdayaan tiap KONI Kota Kabupaten atas cabor potensial yang menjadi keunggulan (karakteristik) masing-masing kota kabupaten lain.

Read More

Jika ditelaah lebih detil, 15 kota/kabupaten yang ada memiliki rekam jejak kelebihan di cabor-cabor tertentu, tak menutup kemungkinan ada beberapa Kota/Kabupaten menangani cabor yang sama.

Intinya adalah dalam road map dan grand design olahraga Sulut, kita memiliki peta dasar pengembangan olahraga untuk prestasi di masing-masing kota Kabupaten. Sehingga jika tiba di etape sebagai akumulasi latihan dan pembinaan semisal ivent PON, maka para atlet yang dibina secara khusus di kota kabupaten itulah yang kemudian masuk di pemusatan latihan.

Jika 15 kota kabupaten minimal mengembangkan satu atau dua cabor potensial sesuai karakteristik daerahnya, di samping tetap mengembangkan cabor alternatif yang lain, maka target untuk mendapatkan medali lebih realistik dan objektif diproyeksikan KONI serta cabor yang ada.

Misalnya untuk cabang perorangan, dari dulu Bitung dikenal memiliki DNA cabor tinju, karate, silat -selain kota/kabupaten lain-, nah cabor ini menjadi skala prioritas pengembangan di Kota Bitung, dan seterusnya.

Tentu skema ini harus tetap dikerjakan dalam bingkai manajemen kolaboratif-sinergis antar KONI SULUT dan KONI Kota/Kab serta Pengcab dan stakeholder olahraga yang ada.

Sisi positif yang bisa didapatkan dengan ‘manejemen persanggrahan’ seperti ini, maka fokus, kebutuhan pembiayaan menjadi lebih efektif dan efisien di samping capaian prestasi lebih maksimal.

Termasuk pada urusan mendapatkan medali, 15 kota kabupaten target minimal 15 emas dengan cabor yang berbeda. Tentu sekali lagi pemetaan ini masih bersifat buram/draft konsep yang membutuhkan kajian dan penyempurnaan di banyak sisi.

Di situlah sebetulnya terminologi olahraga Sulut menemui jawaban dan pembuktian faktual dan objektif pada diksi HEBAT, tak sekadar seperti belakangan acap muncul dengan kalimat melampau target, entah targetnya dalam skala apa.

Semoga.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *