RAUNG SIRENE ITU….!

  • Whatsapp

Emon ‘Kex’ Mudami

Read More

SUDAH beberapa pekan ini, kabar kematian makin mudah kita jumpai entah yang langsung kita temui di sekitar kita bermukim , melalui pengeras suara, lonceng gereja, beranda medsos, bahkan yang belakangan cenderung terdengar -maaf- menggidikan raungan sirene ambulance yang rutin mengaing saban hari.

Saking sering sampai kemudian kita seolah meragukan apakah bebunyian sirene itu hanyalah gema semata atau memang bunyian nyata yang untuk kesekian kali menghentar korban ke liang pekuburan.
Luar biasa dampak yang ditimbulkan oleh hantaman pandemi virus ini, hampir semua tatanan mengalami tekanan dan hantaman.

Deraan demi deraan datang silih berganti tak putus-putusnya dari virus yang mulanya dari Wuhan dan kemudian beranak pinak ke seluruh penjuru dunia.
Menebar teror yang hampir sulit diprediksi ujungnya, apalagi belakangan terdeteksi virus mengalami mutasi dan bereproduksi membentuk varian demi varian.

Segenap negara bersiap, mengerahkan semua sumberdaya demi membendung meluasnya ancaman virus. Ada yang berhasil namun tak sedikit yang masih terus bertarung mencari penangkal merebaknya virus, termasuk yang tengah digumuli negeri tercinta ini.

Prahara terasa kian berat dan menyengsarakan manakala masih saja ada segelintir orang yang menganggap, virus ini hanyalah setingan dan tak seperti yang dibayangkan. Belum lagi miunculnya praktek tak etis memanfaatkan musibah kemanusiaan ini sebagai ajang untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok tertentu.

Hai……, masih harus menunggu apa lagi untuk membuat kita sadar dan maklum semaklum-maklumnya, jika wabah ini tak ubahnya mesin teror mematikan yang lebih mengerikan dari aksi perang frontal yang pernah kita lihat dan saksikan.

Manusia di bumi saat ini tengah berhadapan dengan musuh yang tak kasat mata namun mampu menjarah nyawa manusia dengan cepat, sistematis dan masif.
Kita berhadapan dengan musuh yang sangat opurtunis, bengis, licik, kejam, ia mengintai kelemahan manusia, menyusup di antara sakit bawaan, menggerogoti yang bugar dan abai, kemudian memicu kematian berantai nan tragis.

Virus laknat ini bukan tanpa kelemahan, ia bisa diatasi saat semua mau patuh pada standarisasi kesehatan dan prosedur yang telah dirilis resmi. Namun sekali lagi, masih banyak yang abai dan memandang ancaman pandemi ini dengan sebelah mata.

Pemerintah kita untuk kesekian memperbaharui protokoler, bertarung dengan niatan menyelamatkan nasib anak bangsa. Semua perangkat itu punya batas dan keterbatasan, misi menormalkan keadaan bisa cepat ditangani jika dan hanya jika, semua individu bergerak seirama, merelakan sejenak ruang pribadi dibatasi demi untuk mendapatkan titik-titik keseimbangan untuk bangkit dan memenangkan keadaan.

Hanya dengan cara itu, secara bertahap dan kontinyu kita dapat kembali hidup normal, apakah itu termasuk dengan cara memilih ‘berdamai’ dengan wabah ini, alias mengikuti semua tahapan yang diprakarsai pemerintah.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *