Putusan Gugatan Acap Tertunda, Pengusaha Lumi Menanti Keadilan

  • Whatsapp
Pengusaha Jasa Konstruksi
David Herry Lumi

BITUNG, JDINews.com – Nasib pengusaha jasa konstruksi asal Kota Bitung, bernama David Herry Lumi yang melayangkan gugatan kepada salah satu Bank ternama di Sulut Bank SulutGo (BSG) di Pengadilan Negeri Bitung Sulawesi Utara (Sulut), masih juga berkutat dengan ketidakpastian. Putusan atas gugatan di PN Bitung faktanya sudah tiga kali mengalami penundaan.

Penundaan itu praktis makin menekan keadaan ekonominya, karena hampir empat tahun terakhir ini ia bekerja serabutan, menyusul profesi utama sebagai kontraktor terimbas masalah yang dirundung kepada dirinya.

Berkait adanya kesalahan proses pinjaman nasabah yang membuat dirinya mengalami kerugian yang fatal.

‘’Selain nama perusahaan kena blacklist, juga saya diterpa BI Checking, praktis hampir empat tahun belakangan ini, saya tak lagi bisa bekerja dan bangkrut, menghidupi kebutuhan keluarga bahkan ia harus luntang-lantung’’ katanya dengan nada pilu.

Kilas kembali

Lumi melayangkan gugatan kepada salah satu Bank ternama di Sulut Bank SulutGo (BSG) di Pengadilan Negeri Bitung Sulawesi Utara (Sulut).

Profesi David tercatat sebagai salah satu pengusaha konstruksi di daerah ini, khususnya di wilayah Kota Bitung. Pemilik CV Harmony Jaya tersebut kerap jadi rekanan Pemerintah Kota Bitung. Sejak ada persoalan dengan BSG, dirinya sudah tak lagi memperoleh proyek untuk dikerjakannya.

Persoalan antara dirinya dan BSG, dalam hal ini BSG, Cabang Pembantu Sari Plaza Manembo-nembo, dipicu ketika tahun 2017 silam. Kala itu perusahaan milik-nya dipinjam orang untuk melaksanakan proyek saluran irigasi di Kecamatan Matuari Kota Bitung

“Perusahaan saya dipinjam teman kontraktor, bernama Justiati Tangi. Bagi saya, Itu hal yang biasa dan saya tidak merasa keberatan. Apalagi ada pembicaraan antara kami berdua yang pada intinya saling menguntungkan,” ungkap David.

Justiati sendiri, tak hanya meminjam perusahaan David. Perempuan ini turut meminjam uang di BSG Cabang Pembantu Sari Plaza guna mendukung pekerjaan proyek yang didapatnya.

Karena yang dipakai perusahaan David, secara otomatis pinjaman itu menggunakan rekening yang bersangkutan. David pun tidak keberatan karena Justiati berjanji akan melunasi pinjaman dimaksud. Sialnya, bukan-nya untung yang didapat pada kerjasamanya tersebut, dirinya malah buntung, sebab komitmen yang disampaikan Justiaty nyatanya hanyalah lips service belaka.

Pinjamannya di bank tak kunjung diangsur, sekalipun proyek yang dikerjakan sudah selesai. Di sisi lain, BSG Cabang Pembantu, Sari Plaza juga tak bisa memotong uang hasil pekerjaan proyek yang didapat perempuan itu.

David selaku pemilik perusahaan dan rekening yang dipakai, jadi dirugikan. Utang pinjaman Justiati yang tidak dibayar jadi beban bagi perusahaannya. Padahal sudah jelas, kata David. Mereka (BSG) sudah tahu persis, perusahaan-nya dipinjam Justiati.

“Mereka (BSG red) juga tahu, dia yang pinjam uang pakai perusahaan saya. Tapi karena perbuatan Justiati dan kelalaian bank saya justru yang jadi korban,” keluh David.

Meski Justiati jadi pemicu utama dirinya dirugikan, David juga sangat kesal dengan manajemen BSG. Ia kecewa karena bank tersebut tidak menjalankan prosedur dengan baik. Harusnya kata dia, dari awal BSG sudah memotong angsuran Justiati supaya tidak jadi utang. Hal itu wajib mengingat bank tahu betul yang meminjam uang adalah perempuan dimaksud.

David sendiri, awalnya tidak mau membawa persoalan ini ke ranah hukum. Namun dirinya ingin, adanya kesadaran dari pihak Bank, terkait untuk menyelesaikan. Sayangnya, meski sudah dilaporkan ke pihak berwenang, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, nyatanya persoalan itu tak kunjung selesai. Menyikapi hal tersebut, David langsung melayangkan gugatan ke PN Bitung.

Dalam gugatan itu, BSG dan Justiati Tangi jadi tergugat. BSG selaku tergugat I dan Justiati tergugat II. Untuk turut tergugat ada tiga pihak yang dilibatkan. Pemkot Bitung jadi turut tergugat I, Kantor OJK Manado turut tergugat II, serta Bank Indonesia Cabang Manado turut tergugat III.

Pengacara Lumi, Suharto Sulengkampung SH mengatakan sudah sepantasnya klien menyatakan sikap dengan melayangkan gugatan ke PN Bitung. Dan pihaknya selaku pengacara pun  telah mempelajari semua buhulan masalah ini secara komprehensif.

‘’Sesuai fakta yang ada, maka kami berkeyakinan putusan akan sesuai dengan substansi dan materi gugatan. Meski semua pada akhirnya berpulang kepada nurani hakim, namun kami yakin perkara ini akan diputuskan dengan adil dan independen’’ sebut Sulengkampung.(tim)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *